Urgensi Tarbiyah Islam (2)

Posted: November 2, 2011 in Uncategorized

2.1 Mafhum Tarbiyah

Esensi tarbiyah ada 3 aktivitas yang menjadi satu kombinasi unik dalam tarbiyah, yaitu:
1. Ishlah/ Perbaikan
2. Hifdz/ Menjaga atau memelihara
3. Ri’ayah/ Merawat

1. Ishlah/ Perbaikan
Ishlah merupakan memperbaiki segala sesuatu. Aktivitas tarbiyah merupakan aktivitas memperbaiki.

Ketika Hasan Al Banna berusia 17 tahun dan beliau mengikuti suatu pertemuan yang membahas keterpurukan Islam dan pertemuan ini dihadiri oleh para ulama besar di Mesir, Syekh Yusuf Dajwi mengatakan bahwa keadaan islam saat ini sudah sangat terpuruk sehingga lebih baik kita menyelamatkan diri sendiri. Hasan Al Banna sangat marah mendengar pernyataan ini dan beliau mengatakan bahwa umat islam ini masih ada harapan untuk bangkit dari keterpurukan.

Filosofi Ishlahu syai’in berawal dari keterpurukan islam di segala bidang yaitu aqidah, fiqroh dan akhlak. Manusia yang menjalankan aktivitas tarbiyah ini sejatinya harus ada hal yang diperbaiki dalam dirinya, jadi tidak hanya sekedar aktivitas mendengarkan materi yang disampaikan saja. Jika sudah mengikuti aktivitas tarbiyah sekian lama namun tidak ada pebaikan atau perubahan dalam dirinya maka dapat diindikasikan dia tidak mendapat manfaat tarbiyah. Unsur utama tarbiyah ini yaitu adanya proses perbaikan karena akan berpengaruh pada substansi tarbiyah. Jika mengikuti tarbiyah maka harus ada progress atau peningkatan-peningkatan. Untuk mengetahui adanya peningkatan dalam tarbiyah maka harus ada kontrol dalam tarbiyah.

Upaya perbaikan dalam proses tarbiyah dilakukan secara menyeluruh, memperbaiki dari mulai gejala yang terlihat di permukaan hingga dapat mengetahui sumber permasalahan dan mencari solusi atau tindakan yang cocok dalam melakukan aktivitas ishlah ini. Upaya ishlah dalam tarbiyah agar optimal maka dilakukan secara dua arah yaitu antara murobbi (guru) dan mutarobbi (murid). Seperti halnya antara dokter dan pasiennya, harus ada peran aktif dan keinginan untuk sembuh dari pasien serta keseriusan dokter dalam mendiagnosa penyakit yang diidap oleh pasien.

”Manusia itu laksana barang tambang seperti tambang emas dan perak. Orang-orang yang terbaik di masa jahiliyah adalah orang-orang yang terbaik juga di dalam Islam, apabila mereka memahami Islam.” (Muttafaq alaihi, dari Abu Hurairah).

Kisah sahabat Abdullah bin Mas’ud merupakan seorang penggembala kambing yang memiliki ciri fisik betisnya kecil, namun ketika ditangani oleh Rasulullah beliau di masa khalifah umar bahkan menjadi seorang Gubernur. Inilah contoh tarbiyah ala Rasulullah dimana penanganan tarbiyah yang dilakukan secara dua arah (optimal) antara murobbi dan mad’unya dapat menghasilkan output yang berkualitas.

Dalam perjalanan tarbiyah ini, salah satu progressnya adalah para pelaku tarbiyah dapat menularkan aktivitas tarbiyah kepada yang lain yang belum tertarbiyah, jadi tidak berhenti sampai pada pelaku tarbiyah saja. Progress tarbiyah harus tertata dan terlihat dari waktu ke waktu antara murobbi dan mutarobbinya.

2. Hifdz/ Menjaga atau memelihara
Dalam proses tarbiyah, setelah diperbaiki (islah) maka harus ada upaya penjagaan/pemeliharaan dari kualitas tarbiyah yang sudah diperbaiki tadi. Upaya penjagaan ini pun harus berjalan dua arah antara murobbi dan mutarabbi. Cara penjagaan ini meliputi seperti dengan melakukan mutabaah (evaluasi), review materi yang sudah diberikan, selektif dalam memilih bahan bacaan, selektif dalam memilih teman diskusi serta selektif dalam memilih aktivitas khususnya hanya mengikuti aktivitas yang bermanfaat atau dapat menambah amal-amal shalehnya.

Rasulullah SAW menjaga kualitas para sahabatnya dengan cara formal maupun informal seperti ketika beliau ingin mengetahui sejauh mana pemahaman para sahabatnya maka beliau “melemparkan” sebuah pertanyaan/kasus kepada para sahabatnya untuk ditelaah.

Sahabat Umar ra. berkata bahwa banyaknya istirahat dalam diri seorang Rijal maka merupakan kelalaian.

3. Ri’ayah/ Merawat
Untuk dapat melakukan perawatan dalam tarbiyah maka seorang murobbi harus punya 3 hal penting yaitu pengetahuan, cinta dan kasih sayang. Ar Ri’ayah ini melahirkan kecintaan dan keterikatan hati. Rasulullah SAW menyebut para mutarabbinya dengan para sahabat dan para sahabat pun sangat menghormati Rasulullah namun hal itu tidak menghilangkan keakraban diantara mereka. Sifat cinta dan kasih sayang inilah yang telah timbul antara Rasulullah dan para sahabatnya. Oleh karena itulah generasi terbaik yaitu generasi sahabat di masa Rasulullah karena dalam perawatan Rasul, kemudian diikuti generasi tabi’in dan tabiit tabi’in. Generasi sahabat tumbuh bersama dakwah. Para sahabat membersamai Rasulullah dalam setiap jejak langkah dakwah. Hal inilah yang membuat kualitas para sahabat melesat dengan cepat/meningkat.

Dalam proses perawatan ini seorang murobbi harus tahu kurikulum atau materi yang akan diberikan sesuai dengan pemahaman mutarobbinya saat itu, maka seorang murobbi harus dapat melakukan pemilihan materi yang tepat yang akan diberikan kepada mutarobbinya. Upaya-upaya penjagaan ini diantaranya dengan melakukan kedekatan antara murobbi dan mutarobbi, seperti halnya dalam aktivitas tarbiyah yaitu mengecek shalat tahajud, tilawah dan lain-lain.

Ketika dakwah semakin luas maka akan ada harga yang harus dibayar yaitu dimana terjadinya penurunan kualitas individu pelaku tarbiyah dalam memahami Islam secara kaffah. Ketika Rasulullah wafat ada 10 kabilah yang murtad kecuali di 3 titik yaitu Makkah, Madinah dan Thaif (tempat dimana generasi awal Rasul membina para sahabat).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s