Jika saja mereka semua muslim

Posted: June 13, 2011 in Uncategorized

Sudah 49 hari saya berada disini, tak terasa tinggal menghitung hari saja keberadaanku di negeri dengan penduduk berciri khas di mata, sipit, serta berkulit putih ini. Ciri khas lain bentuk tulisan mereka yang rumit seperti ukiran kayu menurutku, meliuk kesana meliuk kesini, hanya satu yang kuingat bentuk tulisan mereka yaitu mata uangnya, yuan, karena hampir sering kulihat bentuk tulisan yuan dimana mana, apalagi kalau berbelanja, hehehe…

Walau sebagian besar waktu saya dihabiskan di ibukota negara ini dan hanya dalam hitungan bulan, tapi cukup banyak pengalaman menarik yang saya temui. Salut pada sistem transportasinya, dengan jumlah penduduk yang menjadi juara di dunia tapi kepadatan di jalannya mengalahkan Jakarta, jarang saya temui kemacetan, jika pun ada tidak “sehebat” di Jakarta. Penduduk disini dibuat nyaman oleh pemerintahnya, dengan hanya bermodal uang 1 hingga 2 yuan saja (@1 yuan = Rp. 1300) sekali naik, kita sudah bisa kemana mana, subway yang selalu siap dan tidak ngaret, bus yang ga pernah ngetem sehingga tidak mengganggu pengguna jalan lainnya serta ada koridor khusus bagi pengguna sepeda ataupun sepeda motor, jarang sekali saya temui sepeda motor beredar di kerumunan jalan, jauh amat sangat beda dengan Jakarta. Sempat terbesit pertanyaan dalam benak saya, koq bisa pemerintahnya “mengendalikan” kerumunan penduduk di jalan melalui sistem transportasi yang baik.

Permasalahan rumah tinggal pun sudah disiasati pemerintah sini dengan pembangunan apartemen yang dapat menampung puluhan keluarga dalam satu bangunan. Lalu bagaiman dengan tempat bermain atau agenda warga lainnya, ternyata disediakan sebuah taman yang luas beserta pepohonannya dan perlengkapan olahraganya. Subhanalloh, betapa pemerintahannya memperhatikan kebutuhan penduduknya. Ditambah lagi di pinggir jalan pun ditanami dengan berbagai pepohonan serta bebungaan, kian mempercantik kota ini.

Walau begitu, tak lengkap rasanya kelebihan tanpa kekurangan. Masalah kepedulian warga akan kesehatan sangat kurang, mudah sekali penduduk disini meludah di sembarang tempat, walau di dalam restoran sekalipun, entah sudah menjadi kebiasaan atau karena kurangnya edukasi tentang hal ini. Aktivitas penduduknya jikalau sore datang, terutama para kaum tua nya biasa di isi dengan permainan kartu, jika saja mereka seorang muslim insyaAlloh tatkala senja datang dapat diisi dengan aktivitas yang lebih bermanfaat lagi. Serta satu hal lagi yang kadang membuatku tidak tahan jika berada di dalam subway, beberapa dari mereka kurang suka mandi, jadi bisa dibayangkan bau nya seperti apa, khas sekali.

Pernah ketika kami sedang menaiki semacam becak wisata disana sambil menikmati “artistiknya” bangunan kuno, si pengemudi becak sambil berkelakar mengatakan bahwa kami bisa mempunyai lebih dari satu suami, bahkan dia mengatakan tiga suami untukku, ow tidaaak.poliandri tidak ada dalam ajaran agama kami, islam, cukup satu seumur hidup dunia akhirat, insyaAlloh. Iseng saya tanya sudah berkeluarga? ternyata belum dan dia akan kesulitan mendapat istri karena miskinnya dirinya, tidak ada satupun wanita yang bersedia dinikahinya. Oia, tiap pasangan disini sangat mengagungkan kelahiran anak laki laki, sehingga tidak heran jika jumlah laki laki lebih banyak dari wanita. Di Indonesia, alhamdulillah mayoritas muslim, dan beberapa wanita menikah pun bukan berdasar harta semata. Hal semacam ini menurutku menguntungkan pemerintah disini, karena dapat menurunkan jumlah penduduk, secara dia tidak menikah dan tidak memiliki anak, ada satu peraturan yang dibuat disini yaitu satu keluarga satu anak kecuali untuk agama minoritas, atau anak pertama yang dilahirkan ada kekurangan.

Tapi dari semua hal yang kutemui, baik positif maupun negatif, bisa ditarik benang merahnya sebenarnya. Jika saja mereka semua muslim. Yup, jika mereka muslim insyaAlloh akan lebih sejahtera dan terarah lagi hidupnya. Sistem islam bisa membuat hidup mereka jauh lebih baik, bahkan bisa menguasai dunia, mengalahkan kecongkakan Amerika dan kesombongan Israel. Kenapa Indonesia tidak bisa padahal mayoritas muslim? karena Indonesia tidak membawa islam dalam ranah kenegaraannya, hanya sibuk sikut sana sikut sini, terlalu banyak partai politik dengan banyak kepentingan, duniawi tentunya, kawan bisa menjadi lawan, lawan bisa menjadi kawan tergantung angin membawanya kemana. Ah kalau dibiarkan lanjut, bisa bisa lelah jari ini menulis “kepincangan” Indonesia bukan negara ini. Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan, saya hanya berbagi kisah.

sumber: fatimahalisalsabila.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s