Time Out Bukan Hukuman ( Serial mendidik Cinta dengan Cinta ) by Ibu Embun

Posted: April 17, 2011 in Uncategorized

Sore kemarin dua putri istimewa saya Nada dan Jasmine asyik bermain dengan riang gembira. Mereka berkejar kejaran di sekeliling ruang tamu dan kamar. Beberapa kali mereka menabrak perabotan. Saya pun memperingatkan mereka agar berhati hati. Tak mudah memberi peringatan pada kedua putri saya itu karena mereka adalah anak anak berkebutuhan khusus. Beberapa kali pula saya mengangkat mereka dan memindahkan mereka ke tempat yang aman untuk bermain.

Hingga ketika saya lalai, si kecil Jasmine menarik gordyn kamar hingga rel pengaitnya jatuh dan hampir menimpa kepalanya. ” Insting Emak ” saya otomatis bekerja, saya segera berlari menghampiri mereka dan ketika saya melihat mereka baik baik saja segera saja saya melotot dan bertolak pinggang menandakan saya marah pada mereka. Sebelum saya sempat mengeluarkan sepatah kata pun Kakak Nada menggendong adiknya ke sudut kamar dan berkata ” kukum ! ( dihukum ) “. Jasmine yang berusia 4 tahun pun menurut ia berdiri menempelkan punggungnya di dinding. Yang kemudian membuat saya akhirnya tersenyum geli adalah kakak Nada kemudian juga menuju sudut kamar yang lain dan ikut berdiri “menghukum” dirinya sendiri.

Anak anak saya memang terbiasa dengan mekanisme time out. Sejak mereka berusia 1 tahun sudah saya kenalkan dengan aturan aturan dalam keluarga kami berikut konsekuensinya. Pada anak ke dua saya Salman 8 th (yang Alhamdulillah sehat) saya sudah melibatkannya dalam menyusun kesepakatan aturan yang harus ia laksanakan berikut konsekuensinya bila ia melanggar. Saya mengakomodir beberapa keinginan Salman yang menurut saya dan ayahnya wajar, misalnya Salman ingin sesudah belajar ia ingin bermain game komputer. Alhasil saya harus berkompromi setiap hari Salman boleh main game dengan catatan PRnya sudah dikerjakan. Namun anak anak tetaplah anak anak. Meski saya sudah mencoba seoptimal mungkin mendisiplinkan mereka tetap saja ada pelangaran pelanggaran yang mereka lakukan. Sebagai ibu yang normal saya pun acap kali tak kuasa menahan marah bila mereka tetap “ngeyel ” pada prilaku mereka. Dalam berbagai kesempatan kadang yang membuat saya marah adalah prilaku prilaku sepele yang lazim anak anak lakukan misalnya bertengkar satu sama lain. Namun terkadang situasi fisik dan emosi saya tidak selalu dalam kondisi prima dalam menghadapi polah mereka.

Pada saat itulah mekanisme hukuman saya berlakukan. Saya tidak ingin anak anak menerima buah kekesalan dan kelelahan saya. Mekanisme ini saya gunakan untuk menenangkan diri sekaligus memberi ruang bagi saya untuk membereskan hasil perbuatan mereka . Bukannya tanpa kesulitan ketika saya memberlakukan sistem ini. Anak anak yang tantrum, rasa “kasihan ” sang ayah yang tak tega buah hatinya di suruh berdiri di sudut rumah menjadi bagian fase penyesuaian. Namun saya dan ayahnya sudah bertekad bahwa mereka harus didisiplinkan dan tanpa kekerasan.

Kami mengawalinya dengan rentang waktu yang singkat kemudian pertambahan durasi sesuai dengan tahun usia mereka. Sejauh ini semua berjalan efektif. Sampai kemudian ketika saya menghadiri suatu forum parenting yang membahas tentang time out. Disana saya mendapatkan pencerahan dan evaluasi tentang time out. Saya mendapatkan pencerahan baru dari apa yang sudah saya lakukan selama ini bahwa time out sebenarnya bukanlah punishment (hukuman). Time out adalah sebuah metode penyelesaian konflik pada saat situasi dan kondisi sudah tidak terkendali.

Time out sesuai namanya adalah waktu jeda untuk masing masing pihak yang terlibat dalam masalah ( termasuk anak dan orang tua ) agar dapat menenangkan diri dengan menjauhkan diri dari tempat terjadinya masalah. Ini adalah pendidikan awal bagi anak bila berhadapan dengan suatu kondisi dia boleh mengambil waktu jeda untuk merenungi problem yang sedang dihadapi sekaligus untuk menurunkan tensi emosi mereka.

Time out digunakan bila situasi dan kondisi memang sudah tak terkendali. Orang tua tetaplah harus menomer satukan komunikasi. Bila komunikasi sudah dapat berjalan, anak dapat menerima dan mengungkapkan perasaan dan masalahnya dengan baik dan tidak tantrum maka Time out tidak diperlukan.

Selain itu kata “hukuman” menyiratkan sesuatu yang negatif sehingga anak cenderung mengingatnya sebagai sesuatu yang harus dihindari. Maka tak jarang anak anak akan berupaya untuk menghindari hukuman tersebut mulai mereka berlari dan menghindari sudut hukuman hinga mereka berpura pura menahan emosi dan tangis agar mereka tidak dihukum atau bahkan berbohong dan meloemparkan kesalahan pada orang lain. Tentu hal ini tidak diinginkan oleh orang tua. Anak tetap boleh menangis atau meluahkan perasaannya selama time out dengan catatan anak tidak boleh tantrum atau berteriak histeris. Oleh karenanya diperlukan kreatifitas dari orang tua untukmemberikan nama lain dari time out yang berkonotasi positif misalnya sudut penenang, dinding amarah, kursi diam dll.

Berikut adalah tips untuk melaksanakan “sudut penenang” yang saya kutip dari buku “Tanyakan pada SUPER NANNY Jo Frost ” :

1. Berikan peringatan awal
Merunduklah dan sejajarkan mata ibu dengan mata anak dan katakan dengan tegas bahwa prilaku mereka salah dan tidak baik. Berikan peringatan kedua bila anak masih mengulangi prilakunya dan ingatkan tentang konsekuensi “sudut penenang”

2. Sudut Penenang
Bila anak masih mengulangi perilakunya maka bawa anak ke “sudut penenang”.

3. Penjelasan
Setelah anak didudukkan di “sudut penenang” membungkuklah dan tatap mata anak dan beri penjelasan singkat mengapa ia harus tinggal disitu. Sampaikan juga berapa lama waktu yang harus ia habiskan di sudut itu. Panduan umumnya berdasarkan jumlah tahun usia misalnya usia 1 tahun selama 1 menit, 2 tahun 2 menit dst.

4. Tinggalkan
Jangan melakukan komunikasi apapun dengan anak. Apapun yang ia katakan atau lakukan tinggalkan saja. Jika ia beranjak kembalikan kembali ke tempat semula dan jangan mengeluarkan sepatah kata pun.

5. Kembali dan jelaskan
Setelah selesai waktu time out, kembalilah pada anak dan jelaskan kembali mengapa ia didudukkan di sana.

6. Permintaan maaf
Bila waktu time out sudah selesai dan anak masih menangis peluklah ia beri kata kata penghiburan positif sepeti ” ibu sayang ” dst. Setelah anak tenang mintalah ia meminta maaf pada pihak pihak yang bermasalah.

7. Lupakan
Kesalahan yang kerap dilakukan oleh orangtua adalah membicarakan kesalahan anak berulang ulang. Bahkan kesalahan anak sering dibicarakan orang tua pada orang lain di hadapan anak. Mari kita menempatkan posisi kita sebagai anak. Nyamankah kita bila ada orang yang selalu membicarakan kesalahan kita ? Membicarakan kembali kesalahan anak hanya akan membuat anak menjadi rendah diri, anak juga akan belajar mendendam sehingga alih alih menghilangkan perilaku buruk justru kita menambah beban mental anak.

Bila anak sudah melewati “sudut penenang” maka anak sudah “membayar” kesalahannya, maafkan lah ia, lupakan kesalahannya agar ia menjadi lebih percaya diri dan tidak menjadi pribadi yang suka dibayangi masa lalu.

Saat ini saya sedang memprogram ulang mekanisme time out buat anak anak saya. Tidak mudah menghapus kata “hukuman ” dan menggantinya dengan “tembok amarah” terutama dari 2 putri berkebutuhan khusus saya. Tapi saya akan terus belajar dan memperbaiki kesalahan saya. Saya menuliskan ini agar kesalahan yang sama tidak diulangi oleh orangtua lain. Semoga kita bisa menjadi orangtua pembelajar sehingga anak anak kita juga dapat menjadi pribadi pembelajar yang selalu siap mengevaluasi diri mereka agar bisa melakukan perbaikan di masa depan.

Rujukan :

1. Kinderaerger Elternsorgen ( masalah anak kehawatiran orangtua ),Helga Guetler, Ravensburger Buchverlag, Munich Germany 1996
2. Tanyakan pada SUPER NANNY, Jo Frost, Kaifa Mizan Media Utama, Bandung, 2009

sumber: FB Smart Parenting With Love

Comments
  1. Bagus neng…suka aku…. Boleh copas yo…untuk bahan bacaan…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s