Pujian yang meruntuhkan

Posted: April 17, 2011 in Uncategorized

Memberikan pujian kepada anak mempunyai tujuan mulia, yaitu untuk meningkatkan harga diri, mempertebal kepercayaan diri, menigkatkan tanggung jawab dan disiplin, membentuk sikap berani menghadapi tantangan, dan memotivasi anak untuk mengulang perbuatan baiknya di kesempatan lain. Namun jangan salah, ternyata banyak kekeliruan orang tua saat memberika pujian kepada anak,sehingga meruntuhkan tujuan mulia dan menyebabkan anak kurang percaya diri dlm melakukan sesuatau, ragu-ragu, takut berbuat salah dan mengecewakan orang lain. Selain itu kekeliruan dlm cara menyampaikan pujian, membuat anak jd sombong, over confidence, atau bahkan kehilangan kepercayaan kepada orang tua.

Bahkan Jim Taylor, Ph.D., psikolog dari The University of San Francisco mengatakan “jangan puji Anak anda!” krn dia melihat begitu mudahnya orang tua melontarkan pujian kpd anak dengan kalimat “bagus, bagus!” atau “kamu hebat”. Kalimat tersebut Menjadi tidak bermakna krn, pertama, orang tua tidak menyebutkan secara spesifik apa yang dilakukan anak sehingga menerima pujian dan yg kedua, orang tua fokus keoada hasil akhir daripada usaha anak dalam melakukannya.

Kekeliruan orang tua yang bisa menurtuhkan tujuan mulia dari pemberian pujian kpd anak, antara lain:

1. Pujian dgn menambahkan kata “tetapi,..”
Efek positif dr pujian menjadi hilang maknanya, saat anda tambahkan kata tersebut. “anak pintar!, wah sudah makan bisa sendiri ya, tetapi,…. kok berantakan dimana-mana?”
kata “tetapi..” menunjukkan bahwa anda tidak menghargai usaha yang dilakukan anak dan hanya berorientasi pada hasil akhirnya saja.

2. pujian diikuti dgn membuka “luka masa lalu”
“nah, begitu donk mainnya. Jangan bertindak bodoh seperti kemaren”
pujian ini tidak efektif krn menghilangkan rasa penghargaan dgn mengingatkan pada kekurangan atau kejelekan di masa lalu.

3. memberi pujian yg tidak sesuai umur dan kemampuan anak
“wah hebat, anak mama udah bisa makan sendiri” disampaikan kpd anak yg berumur 10 th, maka pujian itu tidak ada maknanya krn anak usia 10 th seharusnya sudah mampu untuk makan sendiri dan tidak memerlukan pujian untuk kegiatan tersebut.kalimat pujian tersebut lebih tepat disampaikan kepada batita yang masih belajarmakan.

4. pujian yg diikuti tambahaan kata “aku bilang….”.
Tambahkan kata ini merubah kalimat pujian menjadi kalimat sinis yg bernada meremehkan. “nah gitu donk, ternyata kamu sudah berhasil menyelesaikannya. Dari kemaren kan sudah aku bilang, tapi kamu tidak mencoba sih!” puian diatas bisa merusak rasa bangga dan menyinggung harga diri anak.

5.pujian yg diikuti kata “tumben…” atau “biasanya…”
Kalimat ini lebih terasa sindiran daripada pujian krn seolah menunjukkan rasa ketidakpercayaan. “tumben, hari ini makannya hebat, padahal biasanya…”

6. pujian yang berlebihan
Menurut Gail Reichin dan Caroline Walker dlm the pocket parent, terlalu banyak pujian dapat menyebabkan anak mnegharap dan tergantung pada perhatian orang lain. Bahkan pujian berlebihan dan tidak sesuai kenyataan lama-lama membuat anak kecewa dan tidak percaya orang lain dan akhirnya kecewa pada diri sendiri.

7. pujian dr segi fisik, bukan dr segi usaha.
Kalimat “kamu memang anak mama yang paling cantik sedunia” akan sangat membahagiakan anak. Pujian ini bisa berdampak negatif, membuat anak sombong dan over confidence. Dan anak menjadi bingung saat mengetahui orang lain mempunyai pendapat yang berbeda dng mama tentang kecantikannya. Seiring dengan usia, dia akan tahu bahwa pujian dari mama tidak seratus persen benar.maka dia akan merasa dibohongi, dan hilang rasa percaya kpd orang tuanya.

8. pujian yang tidak sportif
Pada sebuah pertandingan, bisa aja anak mengalami kekalahan. Untuk menghiburnya perlu, orang tua kadang memberikan pujian dgn memberikan bumbu kejelekan tim lawan, padahal belumtemtu informasinya benar. “meurut ayah, tim kamu mainnya lebih ok. Pasti ada kecurangann tim lawan bisa menang!” pujian tersebut tidak mendidik. Lebih baik hiburlah dengan pujian seperti “meskipun tim kamu kalah,ayah salut dengan kekompakan dan semangat kalian. Ayah yakin dengan rajin berlatih, tim kalian akan menang di kesempatan yanag lain”

9. memuji perbuatan yang tidak pada tempatnya
misalnya saat anak memukul-muluk pengasuhnya. Orang tua berkomentar “wah hebat, Adik sedang latihan silat ya?” kalimat pujian tersebut tidak tepat krn tidak mengajarkan empati dan tidak membuat anak merasa melakukan kesaalahan.

Parents Guide
Oktober 2009

Tooken from: FB Smart Parenting With Love note’s

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s