Komunikasi Efektif Pada Anak

Posted: February 13, 2011 in Uncategorized

RESEP KOMUNIKASI EFEKTIF

Agar komunikasi orang tua nyambung dengan anak, perhatikan kepribadian dan kematangan berpikirnya.

Komunikasi yang efektif penting dalam kehidupan berkeluarga. Tampaknya semua orang sudah tahu itu. Masalahnya, tidak semua orang memahami bagaimana resep berkomunikasi yang efektif antara ayah dan ibu serta orang tua dan anak. Menurut Roslina Verauli, M.Psi., psikolog dari Empati Development Centre, Jakarta, komunikasi efektif berkaitan erat dengan pola asuh orang tua. Ia kemudian “meminjam” enam tipe komunikasi yang dikemukakan F. Philip Rice yang dikaitkan dengan pola asuh,
yaitu:

1. Tipe terbuka

Tipe ini paling sehat. Antara anak dan orang tua terjalin komunikasi saling terbuka. Orang tua mau mendengarkan anak dan anak secara leluasa dapat bercerita, mengeskpresikan perasaan dan pikirannya serta berdiskusi dengan orang tua. Tipe komunikasi ini ada pada pola asuh demokratis atau authoritative. Umpamanya, saat kedua orang tua sedang berbicara, mereka membolehkan anak menanggapi dan menghargai pendapatnya, “Oh, kalau menurut pendapat Adek seperti itu, ya?”

2. Tipe permukaan

Komunikasi yang terjalin bukan pada hal-hal penting; tidak riil, tidak detail dan sekadar basa-basi saja sebatas permukaan. Contohnya, anak bertanya, “Mama, kenapa sedih?” Orang tua hanya menjawab, “Ah, enggak apa-apa. Mama baik-baik saja, kok.” Jadi di saat orang tua atau anak ingin menggali cerita lebih dalam, komunikasi tidak dapat terwujud karena tidak ada saling keterbukaan. Penyebabnya bisa perasaan takut mengecewakan, malu, dan sebagainya. Tipe ini biasanya ada pada pola asuh permisif atau indulgent.

3. Tipe mengabaikan (avoidance)

Masing-masing anggota keluarga saling menghindar sehingga tidak terjalin komunikasi. Hal ini bisa disebabkan hubungan orang tua yang tidak harmonis atau memang karena pribadi orang tua sendiri yang tidak terbuka terhadap anak, dan tidak peduli dengan kebutuhan komunikasi anak-orang tua. Tipe ini biasanya ada dalam pola asuh cuek atau neglectful. Sebenarnya tipe ini hampir sama dengan tipe permukaan. Hanya saja, pada tipe mengabaikan ini, cara bicara orang tua seringkali terbawa emosi. Misalnya orang tua bertanya dengan terburu-buru sambil hendak berangkat ke kantor. “Hai, sayang, apa kabar sekolahmu? Mama pergi dulu, ya.”

“Baik-baik aja tuh,” jawab anak.

“Kok, kamu menjawabnya seperti itu, sih? Mama kan tanya baik-baik.”

4. Tipe komunikasi salah

Biasanya terjadi pada pola asuh otoriter. Orang tua cenderung menuntut anak. Bila tidak sesuai dengan keinginan yang diharapkan, orang tua langsung marah-marah. Akibatnya anak selalu takut berbuat salah. Jadi ketimbang kena damprat, maka anak mengambil jalan aman dengan berbohong. Misalnya, “Tadi, aku di sekolah dapat pujian lo Pa.” Padahal mungkin saja kenyataannya tidak seperti itu. Anak selalu berusaha menceritakan yang bagus-bagus saja atau bicara seadanya. Contoh, “Bagaimana tadi di sekolah?”

“Baik kok, Ma,” tanggap anak.

Pola asuh seperti ini bisa membuat anak jadi tertutup pada orang tuanya.

5. Tipe komunikasi satu arah

Tipe komunikasi satu arah terjadi jika dalam keluarga hanya ada satu figur dominan dalam berkomunikasi. Entah ayah atau ibu. Ia yang menentukan kapan anak boleh bicara dan tidak. Misalnya, “Adek, nanti kalau sudah makan, buat PR….”

Jika anak menyela, “Tapi, kan Ma,…”

“Eit diam! Mama kan belum habis bicara. Dengarkan…”

Tipe komunikasi ini bisanya juga terdapat pada pola asuh yang otoriter.

6. Tipe tanpa ada komunikasi

Antaranggota keluarga jarang terjadi pembicaraan meskipun sebetulnya di antara mereka tidak ada konflik nyata. Misalnya, orang tua pulang kantor masuk kamar. Anak pun demikian, pulang sekolah langsung mengunci kamar. Akibatnya orang tua tidak tahu keadaan dan kebutuhan anak. Ketiadaan komunikasi ini juga ada pada tipe pola asuh neglectful.

DUA SYARAT LAIN

Nah, jika orang tua sudah menerapkan tipe komunikasi terbuka, tinggal 2 syarat lagi yang harus dipenuhi untuk dapat berkomunikasi efektif dengan anak. Pertama, orang tua mesti memahami kepribadian anak. Kedua, orang tua harus melihat kematangan berpikir anak. Jika kedua syarat tadi tidak dilakukan, jangan berharap komunikasi antara anak dan orang tua bisa nyambung. Yang terjadi, orang tua pun tidak tahu kebutuhan anaknya dan anak tidak tahu keinginan orang tuanya seperti apa.

PAHAMI KEPRIBADIAN ANAK

Sebagai petunjuk, salah satu yang mempengaruhi atau menentukan kepribadian anak yaitu temperamen. Ada 4 temperamen manusia menurut filsuf Yunani Hipocrates (460-375 SM), yakni phelgmatic, sanguine, choleric dan melankolis. Keempat temperamen ini ada pada diri setiap anak, hanya saja kadarnya berbeda-beda. Namun biasanya, ada satu temperamen yang paling menonjol dari keempatnya, seperti:

1. Tipe phelgmatic

Anak cenderung pendiam sekalipun dalam keadaan sakit, dia tidak banyak bicara. Anak tipe ini juga lebih banyak jadi pengamat dan bila mengerjakan sesuatu selalu tuntas. Terhadap anak dengan temperamen seperti ini, orang tua harus lebih proaktif untuk memancingnya bicara.

2. Tipe sanguine

Punya banyak teman dan sangat menonjol di lingkungannya. Dalam menyelesaikan suatu pekerjaan tak pernah tuntas karena tipe sanguine lebih senang bermain. Cirinya adalah cenderung gembira, ceria dan mudah akrab dengan orang lain, easy going, pandai bercerita, tak mudah marah maupun sedih, dan memiliki sifat-sifat positif lainnya. Negatifnya, dia tak bisa membedakan situasi, sehingga ia terlihat sebagai sosok yang tak bisa diajak serius.

Anak tipe ini bisa dikatakan banyak cerita dan ingin diperhatikan. Kadang yang diceritakan terlalu dilebih-lebihkan karena tujuannya untuk menarik perhatian orang lain. Nah, hendaknya orang tua bersikap sebagai seorang pendengar yang baik dan mengarahkan anaknya agar tidak sampai terbawa khayalan atau berbohong. Misalnya, “Wah, tadi aku lihat Keke jatuh sampai berdarah-darah.” Orang tua mungkin bisa memintanya menjelaskan lebih detail, “Bagian mananya yang berdarah?” Hindari reaksi, “Oh ya, bagaimana bisa Keke sampai banjir darah?” Jika terlalu direspons seperti itu anak akan melebih-lebihkan lagi ceritanya. Jika tidak diarahkan, kelak anak akan sulit membedakan mana yang kenyataan dan mana yang hanya khayalan/pikirannya saja.

3. Tipe choleric

Anak terlihat gesit, energik dan nyaris tak pernah diam. Memiliki bakat memimpin, tangguh sekaligus berkemauan keras untuk belajar dan maju. Paling tak suka diatur, punya kemauan sendiri, dan cukup keras. Misalnya, anak tidak mau disuruh mandi, “Dek, ayo mandi sudah siang.”

“Enggak mau, ah, Ma, pengin nonton dulu.”

Nah, kalau dia membantah seperti itu, hendaknya orang tua tidak terpancing marah. Akan lebih bijaksana jika berkata “Ayo, dong, mandi. Mandi pagi itu kan sehat. Lihat, deh teman-temanmu di luar sudah mandi semua.”

Sementara untuk anak yang sudah lebih besar orang tua harus bicara tegas dan konsisten karena untuk menghadapi anak tipe ini orang tua harus tetap memegang kendali atau lebih dominan (perpaduan antara komunikasi terbuka dan satu arah). Kalau tidak, anak bisa berkembang semau-maunya dan jadi susah diatur.

Hal yang harus diwaspadai, anak bertemperamen seperti ini cenderung mengabaikan perasaan orang lain, sulit bertenggang rasa pada usaha dan penderitaan yang tengah dilakukan orang lain, serta tidak suka melihat anak lain merengek. Jadi tak salah bila orang tua mengajarkan nilai empati kepada anak seperti ini. Misalnya untuk anak di bawah 7 tahun, “Kalau Adit ingin mainan Bino, minta baik-baik, jangan direbut. Tuh, lihat Bino, dia jadi sedih.” Sedangkan bagi anak usia di atas 7 tahun, katakan seperti ini, “Coba deh, kalau kamu diejek teman, rasanya kesal bukan? Begitu juga kalau temanmu diejek.”

4. Tipe melankolis

Anak sangat sensitif dan berperasaan halus, cenderung pendiam dan tertutup. Namun, ia kurang bisa mengekspresikan perasaannya. Kelebihannya, dalam bekerja anak bertempe
ramen seperti ini termasuk perfeksionis. Orang tua mesti pandai-pandai menjaga perasaannya. Jangan sampai menyinggung dan membuat hatinya terluka.

Bila ia berbuat salah, tegur dengan halus dan terfokus pada kesalahan yang dilakukannya. Hindari cara-cara kasar, seperti membentak-bentak atau melabelinya dengan predikat negatif, seperti, “Kamu memang nakal!” Hal ini akan membekas pada benaknya dan anak menganggap apa yang dikatakan orang tua merupakan hal yang sesungguhnya, yaitu bahwa dirinya memang anak nakal. Kalau sudah begitu, anak cenderung tambah tertutup.

Namun jika cara penanganannya tepat, dalam arti orang tua selalu menggunakan bahasa yang baik dan halus saat berkomunikasi dengannya, maka anak pun bisa menjalin komunikasi yang terbuka dan merasa dekat dengan orang tua.

KEMATANGAN BERPIKIR

Setiap komunikasi verbal pasti melibatkan kemampuan kognitif. Bukankah kemampuan berbahasa berkembang seiring dengan kemampuan kognitif atau berpikir anak? Nah, kemampuan berpikir ini sejalan dengan meningkatnya usia. Menurut Jean Piaget, seorang tokoh psikologi perkembangan, kemampuan berpikir anak 7 tahun ke bawah dengan 7 tahun ke atas memiliki perbedaan nyata. Anak di bawah 7 tahun ada dalam tahap berpikir praoperasional. Maksudnya dalam memahami sesuatu anak masih berpikir konkret atau belum dapat berpikir secara abstrak. Kemampuan berbahasanya pun masih terbatas.

Sementara kemampuan berpikir anak di atas 7 sudah berada pada tahap operasional. Ia sudah dapat memahami hal-hal yang abstrak. Pergaulan mereka semakin kompleks, tak hanya sebatas lingkungan keluarga tetapi juga teman bermain di luar keluarganya atau peer group, dan sering membuat kendala komunikasi (jarak) dengan orang tua. Di usia ini pada umumnya mereka lebih senang mencurahkan isi hatinya pada teman ketimbang pada orang tuanya.

Oleh karena itu, lanjut Vera, orang tua mesti memiliki siasat komunikasi berdasarkan temperamen dan kematangan berpikir anak. Bedakan kala berkomunikasi dengan si adik yang berusia masih berusia 6 tahun dengan cara berbicara dengan si kakak yang sudah berusia 9 tahun misalnya. Pada anak usia 6 tahun, orang tua bisa berkata, “Kalau Adek mengambil barang Nino, nanti Nino jadi sedih.” Sedangkan untuk anak 9 tahun, orang tua bisa bicara dengan lebih abstrak, “Kamu enggak boleh mengambil uang Bunda tanpa izin. Itu namanya mencuri, dan mencuri adalah perbuatan dosa.”

KOMUNIKASI YANG EFEKTIF

Walau begitu, kata wanita yang akrab disapa Vera, berkomunikasi efektif tidak bisa dirumuskan secara eksak. Bagaimanapun juga, setiap anak memiliki karakteristik berbeda-beda yang membutuhkan pendekatan berbeda-beda pula. Jadi, orang tualah yang lebih tahu rumusan berkomunikasi efektif dengan anaknya. Sekadar sebagai petunjuk, inilah beberapa hal yang dapat dijadikan patokan atau bahan-bahas dasar dalam sebuah resep berkomunikasi efektif. Tentu saja orang tua harus menambahkan bumbu tersendiri yang disesuaikan dengan kepribadian anaknya.

Dedeh Kurniasih. Foto: Ferdi/nakita

KOMUNIKASI EFEKTIF TERHADAP ANAK 7 TAHUN KE BAWAH:

* Gunakan bahasa yang singkat, sederhana dan tidak panjang lebar

Orang dewasa saja terkadang bingung jika mendengar pembicaran yang panjang lebar, apalagi anak. Lantaran itu, gunakan komunikasi yang to the point sehingga maksud orang tua dapat lebih mudah dipahami. Misalnya, “Dek, buang kertasnya di keranjang sampah dong.”

* Gunakan bahasa sekonkret mungkin

Ketimbang berkata, “Kamu tidak boleh egois terhadap teman.” Lebih baik katakan, “Rara dikasih kuenya, ya sayang. Kan, enak kalau makan sama-sama.”

* Orang tua jangan jadi peramal

Sering orang tua meramalkan suatu kejadian yang belum terjadi atau sesuatu yang tidak nyata mengenai anaknya. “Kamu jangan panjat-panjat teralis itu nanti kalau jatuh kakimu bisa patah. Lalu Adek dibawa ke dokter terus dioperasi.” Sebaiknya katakan saja, “Hati-hati, ya kalau memanjat teralis itu.”

* Pahami bahasa tubuh anak

Seringkali pada anak yang lebih kecil, bahasa tubuh orang tua yang bersifat nonverbal bisa mengomunikasikan sesuatu karena kemampuan bahasanya memang masih terbatas. Misalnya, si kecil yang berusia 2 tahun tampak diam di suatu pojokan dan wajahnya menegang. Orang tua hendaknya memancing anak untuk bicara, “Kenapa Dek, kamu pup, ya?”

* Tidak dengan nada yang cepat atau terburu-buru

Saat berkomunikasi perhatikan intonasi dan nada suara. Intonasi yang tidak jelas dengan nada terburu-buru bisa membuat anak jadi tidak ngeh dengan apa yang dibicarakan.

KOMUNIKASI EFEKTIF TERHADAP ANAK 7 TAHUN KE ATAS:

* Tumbuhkan sikap saling terbuka dan saling menghargai.

Anak sudah lancar berbicara, lancar berbahasa, bisa mengekspresikan perasaan dan pikiran serta ide-idenya, maka diperlukan sikap terbuka dan menghargai yang lebih nyata dari orang tua.

* Lebih banyak mendengarkan

Hanya saja, terhadap anak berusia di atas 7 tahun, peran orang tua lebih banyak sebagai pendengar dan sedikit berbicara. Dengan lebih banyak mendengarkan anak, orang tua jadi dapat mengetahui kebutuhannya, apa yang diinginkan, dirasakan, diharapkan atau lainnya. Namun, bukan berarti orang tua lantas pasif. Yang benar adalah bersikaplah proaktif. Saat melihat anak lemas sepulang sekolah, orang tua bisa bertanya, “Ada apa, sayang. Kok tumben lemes?” Perhatian seperti ini akan mendorong anak untuk mau bercerita mengenai keadaannya kepada orang tua.

GAYA KOMUNIKASI MENYIMPANG

Elly Risman, Psi., dari Yayasan Kita dan Buah Hati, menyatakan ada 12 gaya komunikasi yang populer dilakukan orang tua. Walau disebut populer tapi belum tentu gaya komunikasi tersebut benar. Elly malah menyebutnya sebagai GKM alias gaya komunikasi menyimpang. Ia memberi contoh kasus, seorang ibu yang melarang anaknya bermain di ruang tamu karena baru membeli guci yang harganya “selangit”. “Coba, ya Kakak sama Adik jangan main-main di situ. Tahu enggak, guci Mama itu baru. Harganya mahal banget. Nanti kalau kesenggol kan bisa pecah. Sana, mainnya di tempat lain. ”

Namun, namanya anak-anak, maklum saja kalau mereka tetap bermain di situ. Sampai tiba-tiba si Kakak terdengar menangis keras. Si ibu pun berlari tergopoh-gopoh. Ia menghela napas lega kala gucinya masih aman-aman saja di tempatnya. Namun, ia terperanjat saat kaki anaknya terluka karena terjatuh. Lalu mulailah sang ibu mengeluarkan 12 GKM tadi, yaitu:

1. “Tuh, kan tadi Mama bilang juga apa. Enggak denger, sih!” (Menyalahkan)

2. “Sudah, diam, jangan nangis!” (Memerintah)

3. “Katanya jagoan tapi kok nangis.” (Mengeritik)

4. “Benar, kan. Ini akibat kamu enggak mendengarkan mama. Lain kali kalau Mama bilang, nurut ya.” (Menasehati)

5. “Nakal, sih, enggak bisa diam.” (Melabel/Mencap)

6. “Coba sini Mama lihat lukanya. Ah, kayak begini aja masa sakit.” (Meremehkan)

7. “Adik aja waktu lukanya menganga enggak sampai nangis begitu.” (Membandingkan)

8. “Ya, sudah, besok pasti sembuh.” (padahal umumnya 3 hari baru sembuh) (Membohongi)

9. “Sudahlah, jangan dirasa-rasain. Nonton TV atau baca buku sajalah sana.” (Menghibur)

10. “Awas, ya kalau lain kali Mama bilang enggak nurut.” (Mengancam)

11. “Coba pikir, kenapa sampai terjatuh? Kan kamu enggak dengerin Mama? Kamu dorong-dorongan sama adik?” (Menganalisa), sambil terus mencecar kesalahan anak.

12. “Lain kali main dorong-dorongan lagi saja. Kan enak…!” (menyindir)

DAMPAK GKM

Padahal jika 12 GKM tadi terus-menerus dilakukan, menurut Elly, tak sedikit dampak yang diakibatkan. Di antaranya kepercayaan diri anak bisa hilang, anak merasa tidak punya harga diri, perasaan anak selalu tertekan, emosinya tak tersalurkan, dan komunikasi antara anak dan orang tua sesungguhnya tak pernah berjalan. Jelas saja jika akhirnya anak akhirnya frustrasi terhadap orang tua. Bahkan beberapa kasus salah komunikasi seperti itu, bisa berakibat fatal karena anak memutuskan menghabisi dirinya sendiri, seperti yang kini banyak terjadi.

Elly melanjutkan, 12 GKM tak hanya akan
berdampak pada sisi kejiwaan anak, tapi juga akan mempengaruhi perkembangan otaknya. Menurutnya, komunikasi-komunikasi menyimpang tadi, yang berlangsung terus-menerus akan mengganggu sirkuit otak anak. Pasalnya, anak yang selalu dalam keadaan terancam tidak akan pernah bisa berpikir panjang apalagi belajar memecahkan masalah yang dihadapinya. Ini berkaitan dengan bagian otak yang bernama korteks yang merupakan pusat logika. Berarti di korteks inilah pusat kemampuan berpikir, kemampuan menganalisa, kemampuan memecahkan masalah hingga kemampuan mengambil keputusan.

Namun, korteks hanya dapat “dijalankan” kalau emosi anak dalam keadaan tenang. Bila tidak, atau saat anak dalam keadaan tertekan karena kerap dimarahi, tidak disayang, merasa tidak dibutuhkan, maka segala stimulus yang masuk hanya sampai di batang otak saja. Kalau sudah begitu, cara berpikir anak tak berbeda dengan cara berpikir binatang yang hanya menggunakan instink. Ya, seperti dikatakan tadi anak jadi tidak bisa berpikir panjang. “Tak heran kalau ada anak yang tidak dibelikan duren oleh orang tuanya lantas bunuh diri karena dia tidak bisa berpikir panjang,” tambah Elly.

Oleh karena itu, dalam berkomunikasi dengan anak, orang tua harus memperhatikan pula cara sirkuit otak bekerja. Apa pun kondisi orang tua, apakah sedang capek, letih lesu, sakit, tetaplah berusaha menjaga komunikasi yang tidak menyimpang dengan anak.

Dalam contoh kasus tadi, saat orang tua tahu anaknya terjatuh padahal sudah dilarang bermain di tempat itu, yang pertama mesti dilakukan adalah kendalikan diri jangan langsung bereaksi. Ini juga berlaku pada semua kasus.

Jika orang tua bisa mengendalikan diri berarti dia juga bisa mengendalikan emosinya sehingga otaknya memiliki waktu untuk berpikir, apakah perkataan yang dikeluarkan akan menyakitkan anak atau tidak. Dengan emosi yang terkendali sangat mungkin orang tua akan berkata, “Jatuh ya sayang. Sini Mama obatin. Lain kali enggak usah main dorong-dorongan lagi ya!”

Sumber: inet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s