Menunggu itu ternyata menyenangkan…

Posted: January 31, 2011 in Uncategorized

Perjalanan ke Bogor pertamaku di tahun 2011 kuawali dengan memutuskan untuk menaiki kendaraan yang kurindukan “kereta”, yup, aku merindukan naik kereta…Entahlah, jika duduk di dalam kereta (duduk loh bukan berdiri :D) bisa mengamati berbagai “gerak mimik muka” para penghuni kereta dan segala tingkah lakunya, termasuk kaum dhuafa seperti peminta-minta dan “para pengusaha cilik” seperti pedagang buah atau pedagang asongan maupun minuman yang lalu lalang menjajakan dagangannya, “Yang aus yang aus, Mijone mijone, Aqua aqua”. Ekspresi lepas tanpa ada kekakuan dalam gaya menghidupkan suasana, sangat berbeda dengan gaya para ekspatriat muda di gedung mewah sana😀

Sambil antri menunggu membeli karcis di loket yang tersedia, ternyata eh ternyata kereta menuju Bogor datang dan ketika selesai ku membayar karcis, jiaaaaaah keretanya pergi… Walau sedih, muka harus tetap tersenyum, biar awet muda euy, huehuehue….😀😀😀

Kuambil posisi duduk terenak (di peron perasaan tempat duduknya sama semua, jadi apanya yang enak ya???). Yang terenak adalah tempat duduknya sepi atau yang duduk perempuan semua, jika pun terpaksa ada laki lakinya ya dia tidak merokok, nah itu posisi enak, bisa buat merenung alias nungguin kapan kereta ku datang (serasa kereta sendiri) atau bisa buat membaca atau kalau punya cemilan bisa buat posisi enak wat makan. Alhamdulillah posisi terenak ku kali ini adalah tempat duduk itu sepi dan hanya terdapat beberapa orang perempuan yang duduk disana. Jadilah saya duduk sambil baca-baca (gaya beud…!), sambil sms an juga (halah…!) atau bahkan inetan (jiaaaaaah….!), hehehe… Enak kan…!😀

Saat sedang asyik duduk sambil menanti kereta yang belum kunjung lewat juga (terkadang menunggu itu membosankan juga ya…), saya ga sadar kalau disampingku ternyata ada yang duduk juga, seorang perempuan muda, dan sepertinya dia memperhatikanku dari tadi hanya sayanya yg ga sadar diperhatikan (serasa banged dah…hehehe). Dan benarlah, perempuan itu menyapaku dan mulailah terjadi perbincangan itu.

Namanya Nia, begitu dia memperkenalkan dirinya pertama kali, seorang dosen UI di salah satu fakultas (maaf ya tidak bisa saya sebutkan fakultasnya apa) dan dia angkatan kuliahnya 2000, terpaut kira2 1 tahun dengan saya (saya kaget juga kenapa dia memperkenalkan dirinya sedetail itu pada orang yang baru ditemuinya alias saya). Tapi gapapalah, sebagai salah satu bentuk silaturahim dan sepertinya orangnya baik…

Ka Nia (dia selalu menyebut dirinya begitu ketika tahu saya usianya dibawah dia) ini bercerita tentang jenjang pendidikannya serta pekerjaannya, dan begitupula saya (walau jujur saya ceritanya sedikit banyakan dia, hehehe). Dia berencana untuk melanjutkan studi nya mengambil S3 di Amerika sana, wew…akupun bergumam sendiri, berarti bahasa inggris ka nia ini canggih bener ya, subhanalloh, mantaB mantaB, dan terbukti di sela-sela obrolan kadang dia pake bahasa Inggris (untung yg ga susah bahasanya jadi saya tahu artinya, hehehe). Perempuan belum berjilbab ini sangat semangat sekali jika sudah berbicara tentang pendidikan dan itu berarti karier juga pada pekerjaannya, sehingga sempat terbesit dalam pikiran saya bahwa ka Nia ini seorang wanita karier. Ternyata pikiran yang sempat terlintas ini ditepis sudah, tak berapa lama kemudian ka Nia “berwasiat” padaku bahwa jadi wanita itu harus pintar biar nantinya bisa mendidik anak-anaknya dengan benar. Hmm…benar juga, menjadi Ibu rumah tangga pun nantinya tetap harus pintar, tidak harus belajar formal, non formal pun bisa dilakukan sehingga bisa menambah wawasan Ibu, kan Didiklah anakmu sesuai zamannya, kalau Ibunya ga “gaul” dalam arti pintar maka akan “mengalami kesulitan” dalam memahami perkembangan anak-anaknya. Benar sekali ka Nia, ga kusangka, ternyata ka Nia ini pecinta keluarga.

Ka Nia pun bercerita lagi tentang kepemimpinan perempuan, menurutnya pemimpin itu sebaiknya laki-laki, dan benar seperti yang ada di dalam Al Qur’an, Laki-laki itu pemimpin bagi kaum wanita. Pernyataan kedua yang menepis dugaanku tentang ka Nia ini. Dan dia pun bilang bahwa wanita itu jika sudah bersuami harus taat sama suaminya, prioritas keluarga dan dia pun akan melakukan hal itu jika kelak Alloh mentakdirkan jodoh untuknya. Ah ka Nia ini, salut saya, semoga Alloh memberimu hidayah sehingga bisa menutup aurat sesuai syariat.

Dan ketika sedang asyik mengobrol, datanglah keretaku itu, ternyata saya dan ka Nia sudah ngobrol cukup lama, tapi karena menarik jadi tidak berasa. Ternyata menunggu itu jika “diisi” dengan hal bermanfaat sangat menyenangkan juga, salah satunya obrolan “sehat” ini😀.

Dari sepotong perjalanan saya itu, di dalam kereta yang kutumpangi (ternyata lumayan padat keretanya, padahal ke Bogor, mungkin karena baru ada kereta setelah sekian lama, jadi penumpangnya membludak) saya mendapat hikmah yang luar biasa dari ka Nia ini, esensi seorang perempuan, hakikat keberadaan seorang perempuan jika sudah menikah, walaupun saya sudah menyadarinya tapi hal ini semakin menguatkan azzam saya, Ka Nia yang pintar dan terkesan wanita karir saja “bersedia” untuk mentaati suami dan memprioritaskan keluarganya jika sudah menikah nanti, maka saya pun “semakin bersedia”. Selain itu makna silaturahim dan sapa dalam Islam. dan yang terakhir, menunggu itu jika diisi dengan hal bermanfaat akan sangat menyenangkan dan sepertinya saya akan melakukan itu, menunggu dengan hal yang bermanfaat dan menyenangkan🙂

Ya, saya akan menunggu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s