suamiku kini tlah tiada dan penyesalanku yg terus ada (poem)

Posted: May 24, 2010 in Uncategorized

sumber : blog tetangga ^__^

suamiku
kini tlah tiada dan penyesalanku yg terus ada

Ini
adalah kisah nyata di kehidupanku
Seorang suami yg kucintai yang
kini telah tiada
Begitu besar pengorbanan seorang suamiku pada
keluargaku
Begitu tulus kasih sayangnya untukku dan anakku
Suamiku
adalah seorang pekerja keras. Dia membangun segala yang ada di keluarga
ini dari nol besar hingga menjadi seperti saat ini. Sesuatu yang kami
rasa sudah lebih dari cukup.

Aku merasa sangat berdosa ketika
teringat suamiku pulang bekerja dan aku menyambutnya dengan amarah,tak
kuberikan secangkir teh hangat melainkan kuberikan segenggam luapan
amarah.
Selalu kukatakan pada dia bahwa dia tak peduli padaku,tak
mengerti aku,dan selalu saja sibuk dengan pekerjaannya.

Tapi
kini aku tahu.
Semua
ucapanku selama ini salah dan hanya menjadi penyesalanku karena dia
telah tiada.
Temannya
mengatakan padaku sepeninggal kepergiannya.

Bahwa
dia selalu membanggakan aku dan anakku di depan rekan kerjanya.
Dia
berkata, “ setiap kali kami ajak dia makan siang,mas anwar jarang
sekali ikut kalau tidak penting sekali,alasannya slalu tak jelas.

Dan
lain waktu aku sempat menanyakan
kenapa dia jarang sekali mau makan siang, dia menjawab, “ aku belum
melihat istriku makan siang dan aku belum melihat anakku minum susu
dengan riang.lalu bagaimana aku bisa makan siang.”

Saat
itu tertegun,aku salut pada
suamimu. Dia sosok yang sangat sayang pada keluarganya. Suamimu bukan
saja orang yang sangat sayang pada keluarga,tapi suamimu adalah sosok
pemimpin yang hebat. Selalu mampu memberikan solusi-solusi jitu pada
perusahaan.”

Aku
menahan air mataku karena aku tak
ingin menangis di depan rekan kerja suamiku. Aku sedih karena saat ini
aku sudah kehilangan sosok yang hebat.

Teringat akan amarahku
pada suamiku, aku selalu mengatakan dia slalu menyibukkan diri pada
pekerjaan, dia tak pernah peduli pada anak kita. Namun itu semua salah.
Sepeninggal suamiku. Aku menemukan dokumen2 pekerjaannya. Dan aku tak
kuasa menahan tangis membaca di tiap lembar di sebuah buku catatan
kecil di tumpukan dokumen itu, yang salah satunya berbunyi, “
perusahaan kecil CV.Anwar Sejahtera di bangun atas keringat yang tak
pernah kurasa. Kuharap nanti bukan lagi CV.Anwar Sejahtera, melainkan
akan di teruskan oleh putra kesayanganku dengan nama PT. Syahril Anwar
Sejahtera. Maaf nak, ayah tidak bisa memberikanmu sebuah kasih sayang
berupa belaian. Tapi cukuplah ibumu yang memberikan kelembutan kasih
sayang secara langsung. Ayah ingin
lakukan seperti ibumu. Tapi kamu
adalah laki-laki. Kamu harus kuat. Dan kamu harus menjadi laki-laki
hebat. Dan ayah rasa,kasih sayang yang lebih tepat ayah berikan adalah
kasih sayang berupa ilmu dan pelajaran. Maaf ayah agak keras padamu
nak. Tapi kamulah laki-laki. Sosok yang akan menjadi pemimpin,sosok
yang harus kuat menahan terpaan angin dari manapun. Dan ayah yakin kamu
dapat menjadi seperti itu.”

Membaca
itu,benar2 baru
kusadari.betapa suamiku menyayangi putraku.betapa dia mempersiapkan
masa depan putraku sedari dini. Betapa dia memikirkan jalan untuk
kebaikan anak kita.

Setiap suamiku pulang kerja. Dia selalu
mengatakan, “ ibu capai?istirahat dulu saja”

Dengan
kasar kukatakan, “ ya jelas aku
capai,semua pekerjaan rumah aku kerjakan. Urus anak,urus cucian,masak,
ayah tahunya ya pulang datang bersih.titik.”

Sungguh,bagaimana
perasaan suamiku
saat itu. Tapi dia hanya diam saja. Sembari tersenyum dan pergi ke
dapur membuat teh atau kopi hangat sendiri. Padahal kusadari. Beban dia
sebagai kepala rumah tangga jauh lebih berat di banding aku.
Pekerjaannya jika salah pasti sering di maki-maki pelanggan. Tidak
kenal panas ataupun hujan dia jalani pekerjaannya dengan penuh ikhlas.

Suamiku
meninggalkanku
setelah terkena serangan jantung di ruang kerjanya.tepat
setelah aku menelponnya dan memaki-makinya. Sungguh aku berdosa. Selama
hidupnya tak pernah aku tahu bahwa dia mengidap penyakit jantung. Hanya
setelah sepeninggalnya aku tahu dari pegawainya yang sering
mengantarnya ke klinik spesialis jantung yang murah di kota kami.
Pegawai tersebut bercerita kepadaku bahwa sempat dia menanyakan pada
suamiku.

“pak
kenapa cari klinik yang
termurah?saya rasa bapak bisa berobat di tempat yg lebih mahal dan
lebih memiliki pelayanan yang baik dan standar pengobatan yang lebih
baik pula”

Dan
suamiku menjawab, “ tak usahlah
terlalu mahal. Aku cukup saja aku ingin tahu seberapa lama aku dapat
bertahan. Tidak lebih. Dan aku tak mau memotong tabungan untuk hari
depan anakku dan keluargaku. Aku
tak ingin gara-gara jantungku yang rusak ini mereka menjadi kesusahan.
Dan jangan sampai istriku tahu aku mengidap penyakit jantung. Aku takut
istriku menyayangiku karena iba. Aku ingin rasa sayang yang tulus dan
ikhlas.”

Tuhan..Maafkan
hamba Tuhan,hamba tak
mampu menjadi istri yang baik. Hamba tak sempat memberikan rasa sayang
yang pantas untuk suami hamba yang dengan tulus menyayangi keluarga
ini. Aku malu pada diriku. Hanya tangis dan penyesalan yang kini ada.

Saya
menulis
ini sebagai renungan kita bersama. Agar kesalahan yang saya
lakukan tidak di lakukan oleh wanita-wanita yang lain. Karena
penyesalan yang datang di akhir tak berguna apa-apa. Hanyalah
penyesalan dan tak merubah apa-apa.

Banggalah
pada suamimu yang senantiasa meneteskan keringatnya hingga lupa
membasuhnya dan mengering tanpa dia sadari.
Banggalah pada
suamimu,karena ucapan itu adalah pemberian yang paling mudah dan paling
indah jika suamimu mendengarnya.
Sambut
kepulangannya di rumah dengan senyum dan sapaan hangat. Kecup keningnya
agar dia merasakan ketenangan setelah menahan beban berat di luar sana.
Sambutlah
dengan penuh rasa tulus ikhlas untuk menyayangi suamimu.
Selagi dia
kembali dalam keadaan dapat membuka mata lebar-lebar.
Dan bukan
kembali sembari memejamkan mata tuk selamanya.

Teruntuk suamiku.
Maafkan
aku sayang.
Terlambat sudah kata ini ku ucapkan.
Aku janji pada
diriku sendiri teruntukmu.
Putramu ini akan kubesarkan seperti
caramu.
Putra kita ini akan menjadi sosok yang sepertimu.
Aku
bangga padamu,aku sayang padamu.

Istrimu
Rina

Silahkan
berbagi tulisan ini kepada
saudara,teman, kerabat anda. Saya berharap pengalaman yg saya miliki
dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.

Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s